EKSKLUSIF | Saat Tekanan Ekonomi dan Mental Membuat Orang Tua Lakukan Kekerasan Anak di Rumah
Jakarta (BIGNEWS) – Belakangan ini, kekerasan terhadap anak di dalam rumah menjadi sorotan serius. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Margaret Aliyatul Maimunah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap peningkatan kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan keluarga sendiri. Wawancara eksklusif dengan Tribun Network di Studio Tribunnews, Palmerah, Jakarta, pada Kamis (23/10/2025), mengupas bagaimana tekanan ekonomi dan psikologis mendorong orang tua melakukan kekerasan terhadap anak.
Rumah: Surga atau Sumber Ketakutan?
Idealnya, rumah menjadi tempat teraman bagi anak-anak untuk berkembang, belajar, dan merasakan kasih sayang. Namun, realitas berkata lain bagi sebagian anak di Indonesia. Rumah justru berubah menjadi tempat yang menakutkan, di mana anak-anak mengalami kekerasan, termasuk kekerasan seksual yang memilukan.
Kejadian ini paling menyedihkan ketika pelaku kekerasan adalah orang tua sendiri, yang seharusnya melindungi anak-anak mereka. Hal ini menggarisbawahi pentingnya perhatian pada isu kekerasan terhadap anak di level keluarga.
Tekanan Ekonomi dan Mental Orang Tua sebagai Penyebab Utama
Menurut Margaret, faktor tekanan ekonomi yang menekan keluarga sangat berpengaruh terhadap meningkatnya kekerasan di rumah. Ketika orang tua menghadapi kesulitan finansial dan stres mental, kemampuan mereka dalam mengelola emosi seringkali menurun, sehingga potensi kekerasan meningkat.
Tidak hanya soal uang, kondisi mental yang memburuk akibat beban hidup yang besar memicu orang tua untuk melakukan kekerasan yang sebenarnya bisa dicegah dengan dukungan yang tepat.
Faktor Psikososial dan Dampak Kekerasan Anak
Stres akibat kesulitan ekonomi dan masalah psikologis dapat menciptakan konflik di dalam rumah tangga. Kondisi ini sering kali berdampak langsung pada anak, yang mengalami trauma berkepanjangan, gangguan perkembangan, dan masalah kesehatan mental.
Kekerasan dalam keluarga tidak hanya isu individual, melainkan juga menjadi perhatian sosial yang memerlukan penanganan terpadu dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan organisasi perlindungan anak.
Peran Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
KPAI berfungsi sebagai penjaga hak anak dan pengawas pelaksanaan perlindungan anak di Indonesia. Dengan mengalami lonjakan kasus kekerasan di rumah, KPAI terus mengadvokasi kebijakan serta program intervensi untuk mencegah kekerasan dan memberikan perlindungan maksimal bagi anak-anak.
Upaya ini sejalan dengan hak anak yang harus dihormati dan dilindungi secara penuh demi masa depan generasi penerus bangsa.
Langkah Preventif dan Dukungan yang Diperlukan
Penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk memberikan dukungan konkret kepada keluarga yang mengalami tekanan berat, baik secara ekonomi maupun psikologis. Layanan konseling keluarga, edukasi tentang pengelolaan emosi, serta program bantuan sosial adalah beberapa langkah penting yang bisa meringankan beban orang tua.
Selain itu, pendekatan inklusif yang melibatkan sekolah, komunitas, dan berbagai lembaga sosial dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak, sehingga rumah tetap menjadi tempat perlindungan yang aman dan penuh kasih.
Referensi dan Bacaan Lanjutan
- Gen Z Bicara Prioritas Punya Rumah: Penting atau Gak?
- Prabowo Yakin Ekonomi RI Tembus 8 Persen
- Pemprov Jateng Beri Layanan Kesehatan Gratis bagi Para Santri
*Sumber: BIGNEWS, YouTube Channel resmi Tribunnews*






