Solo (BIGNEWS) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegoro secara resmi dinobatkan sebagai Pakubuwono XIV pada Sabtu, 15 November 2025, dalam sebuah prosesi adat bersejarah di Sasono Probo Suyoso, Keraton Kasunanan Surakarta. Penobatan ini menjadi tonggak penting dalam melanjutkan tradisi panjang kerajaan Mataram yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Pengukuhan Pakubuwono XIV dan Makna Tradisi Keraton
Prosesi Jumenengan Dalem Nata Binayangkare PB XIV merupakan ritual sakral yang tidak hanya menandai penobatan raja baru namun juga mengukuhkan kelanjutan nilai-nilai luhur adat Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam pidato pertamanya dihadapan abdi dalem dan Sentono dalem, KGPAA Hamangkunegoro menyampaikan tiga janji setia yang menjadi dasar kepemimpinannya.
Tiga Janji Setia KGPAA Hamangkunegoro
1. Menjaga Aturan Keagamaan dan Tata Cara Adat
KGPAA Hamangkunegoro berjanji akan menjalankan tugas sebagai Sri Susuhunan dengan penuh tanggung jawab, menjaga keadilan dalam pelaksanaan aturan keagamaan dan tata cara adat istiadat yang menjadi fondasi Keraton. Ini menunjukkan komitmen kuat terhadap pelestarian budaya Jawa yang kaya simbolisme dan nilai spiritual tinggi.
2. Setia dan Berbakti pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Janji kedua yang disampaikan adalah kesetiaan kepada NKRI, menegaskan bahwa kepemimpinan Keraton tidak terlepas dari ikatan dengan negara serta peranannya dalam menjaga persatuan bangsa. Hal ini sejalan dengan sejarah Kerajaan Mataram yang juga pernah disebut dalam konteks kesatuan wilayah Nusantara.
3. Melestarikan Adat Istiadat dan Tradisi Keraton
Poin ketiga highlights kesanggupan PB XIV untuk menjaga dan mewariskan adat istiadat Keraton Kasunanan Solo yang telah berusia ratusan tahun. Tradisi ini tidak hanya sebatas ritual, tetapi menjadi identitas budaya yang memberikan kebanggaan serta pewarisan nilai-nilai luhur bagi generasi mendatang.
Kontroversi dan Klaim Ganda atas Tahta Pakubuwono XIV
Sebelum pengukuhan ini, terjadi perebutan gelar Pakubuwono XIV di antara pihak Keraton. Selain KGPAA Hamangkunegoro atau KGPH Purbaya, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Hangabehi, putra tertua PB XIII dari istri kedua, juga mengklaim gelar tersebut yang didukung oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) beserta sebagian kerabat.
Perebutan ini mencerminkan kompleksitas politik internal yang kerap terjadi dalam monarki tradisional serta menuntut kebijaksanaan dalam penyelesaian agar tradisi tetap terjaga dan tidak menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat dan pengikut Keraton.
Terhubung dengan Pelestarian Budaya dan Sejarah Nusantara
Pelantikan KGPAA Hamangkunegoro menjadi Pakubuwono XIV merupakan pengingat penting akan nilai budaya dan sejarah Keraton Solo, yang merupakan bagian dari sejarah panjang Kasunanan Surakarta. Seperti yang pernah diulas dalam artikel kami tentang Budaya dan Gaya Hidup generasi muda, pelestarian tradisi menjadi elemen krusial yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Keraton Surakarta sendiri sudah mengalami berbagai dinamika sejarah, dan kehadiran Pakubuwono XIV diharapkan menjadi penopang kestabilan sekaligus pelestarian nilai-nilai luhur budaya Jawa yang merupakan bagian dari Identitas Bangsa.
Lebih lanjut, pemimpin baru ini juga memerintahkan abdi dalem dan keluarga untuk konsisten menjalankan kewajiban demi kebaikan Keraton dan masyarakat luas.
Sebagai catatan, absennya beberapa tokoh penting dalam pengukuhan menghadirkan tanda tanya tersendiri, namun semangat pelestarian tradisi tetap menjadi fokus utama acara.
Kami mengajak pembaca untuk merenungkan pentingnya peran tokoh adat seperti Pakubuwono XIV dalam menjaga kultur dan harmoni sosial di tengah perubahan zaman, serta bagaimana konsep kepemimpinan tradisional dapat beradaptasi tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Referensi dan Bacaan Terkait
Sumber: BIGNEWS, YouTube Channel resmi Tribunnews






